2022

PROGRAM PENINGKATAN STATUS KEHATI DI KAWASAN KONSERVASI 2022

Keanekaragaman hayati merupakan varasi atau perbedaan bentuk-bentuk makhluk hidup,

meliputi perbedaan pada tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, materi genetik yang di kandungnya, serta bentuk-bentuk ekosistem tempat hidup suatu makhluk hidup (Ridhwan 2012). Pada dasarnya keanekaragaman melukiskan keadaan yang bermacam-macam terhadap suatu benda yang terjadi akibat adanya perbedaan dalam hal, ukuran, bentuk, tekstur maupun jumlah. Sedangkan kata hayati itu sendiri berarti sesuatu yang hidup, jadi Keanekaragaman. Keanekaragaman hayati dapat dilihat dari tiga tingkat, yaitu keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem Keanekaragaman hayati berperan penting dalam menyediakan kebutuhan barang dan jasa, mengatur proses dan fungsi ekosistem sehingga kehidupan dapat terus berlangsung (Marhaento dan Faida 2015).

 

 

Analisa Data

Analisis data kuantitatif dilakukan untuk mengetahui angka kerapatan, dominansi, frekuensi dan nilai penting dilakukan dengan perhitungan menurut Muller-dombois dan Ellenberg (1974). Untuk indeks keanekaragaman dihitung menurut indeks keanekaragaman spesies Shanon-Wiener (Krebs 1989).

1. Kerapatan

Kerapatan adalah jumlah individu per unit luas atau per unit volume. Dengan kata lain, kerapatan merupakan jumlah individu organisme per satuan ruang. Untuk memudahkan dalam proses analisis kerapatan ini sering menggunakan notasi K. Perbandingan kerapatan suatu jenis dengan kerapatan seluruh jenis yang dinyatakan dalam % disebut kerapatan relatif (KR).  Hasil dari perhitungan dapat memberikan gambaran jumlah individu dalam satuan luas tertentu. Kerapatan ini ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu jenis dibagi area peta, dengan rumus sebagai berikut:

2. Dominansi

Dominansi dapat juga disebut dengan luas penutupan. Luas penutupan (coverage) adalah proporsi antara luas tempat yang ditutupi oleh spesies tumbuhan dengan luas total habitat (Indriyanto 2017).

3. Frekuensi

Frekuensi dalam suatu ekologi dipergunakan untuk menyatakan proporsi antara jumlah sampel yang berisi suatu spesies tertentu tehadap jumlah total sampel. Frekuensi merupakan besarnya intensitas diketemukannya suatu spesies organisme dalam pengamatan keberadaan organisme pada komunitas atau ekosistem (Indriyanto 2017) dapat dihitung dengan rumus:

4. Indeks Keanekaragaman

Indeks keanekaragaman spesies Shanon–Wiener yang menunjukan keanekaragaman spesies (Price 1997) yang dihitung dengan rumus:

Selanjutnya dari nilai H yang sudah ditemukan kemudian dikategorikan kedalamtabel indikator keanekaragaman jenis, yang bertujuan untuk mengatahui nilai kelimpahan atau ketersediaan suatu jenis tersebut dalam satu komunitas.

5. Indeks Nilai Penting (INP)

INP adalah parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi (tingkat penguasan) spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan (Soegianto 1994). Indeks Nilai Penting dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

INP = KR + FR + DR

INP Tumbuhan Bawah = KR + FR

Keterangan:

KR: Kerapatan relatif

FR: Frekuensi Relatif

DR: Dominansi Relatif

Nilai penting merupakan penjumlahan dari kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif, yang berkisar antara 0 – 300 (Mueller-Dombois dan Ellenberg 1974).

6. Indeks Kemerataan Jenis

Indeks kemerataan menunjukkan tingkat kemerataan individu dalam setiap jenisnya. Indeks ini menunjukkan pola sebaran satwa, yaitu merata atau tidak. Jika nilai E semakin mendekati 1, maka menunjukkan nilai kemerataan yang semakin tinggi menandakan keberadaan setiap jenis satwa dalam kondisi merata. Magurran (1988) menggunakan rumus matematis sebagai berikut untuk menghitung nilai kemerataan jenis.

Keterangan:

E = Indeks Kemerataan Jenis (Index of Evenness)

H’ = Indeks Keanekaragaman Jenis

S = Jumlah jenis

Menurut Magurran (1988) besaran:

a) E < 0,3 menunjukkan kemerataan jenis yang rendah

b) 0,3 ≤ E ≤ 0,6 menunjukkan tingkat kemerataan jenis yang sedang

c) E > 0,6 menunjukkan tingkat kemerataan jenis yang tergolong tinggi

+Status Flora+

1. Tabel Indeks Nilai Penting (INP) Tingkat Semai dan Tumbuhan Bawah

2. Tabel Indeks Nilai Penting (INP) Tingkat Pancang

3. Tabel Indeks Nilai Penting (INP) Tingkat Tiang

3. Tabel Indeks Nilai Penting (INP) Tingkat Pohon

Ringkasan Indek Keanekaragaman Hayati Flora

+Status Fauna+

Aktivitas burung di areal unit PLTGU Cilegon yang teramati yaitu berada di tajuk pohon baik mulai percabangan sampai pucuk pohon. Hal ini terlihat dengan ditemukannya sarang di daerah percabangan yang lebat dan pucuk pohon. Sarang burung dapat dilihat pada Gambar 8. Hal ini menunjukan pohon sebagai tempat mencari makan, beraktivitas, berkicau, perlindungan burung dari cuaca, dan predator (Hadinoto et al. 2012). Namun ditemukan pula burung yang bersarang di tajuk pohon dan beraktivitas di permukaan tanah seperti Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) dan Bondol Haji (Lonchura maja) untuk mencari ranting-ranting kecil untuk sarang dan mencari makan. Beberapa jenis burung dapat menggunakan habitat yang sama tapi berbeda dalam hal pola makan dan ketinggian.

1. Tabel Daftar Jenis Fauna Burung

2. Indeks Keanekaragaman Hayati

Aktivitas Burung di Area Konservasi Ring 1&2