2023

PROGRAM PENINGKATAN STATUS KEHATI DI KAWASAN KONSERVASI TAHUN 2023

Keanekaragaman hayati merupakan varasi atau perbedaan bentuk-bentuk makhluk hidup,meliputi perbedaan pada tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, materi genetik yang di kandungnya, serta bentuk-bentuk ekosistem tempat hidup suatu makhluk hidup (Ridhwan 2012).

Pada dasarnya keanekaragaman melukiskan keadaan yang bermacam-macam terhadap suatu benda yang terjadi akibat adanya perbedaan dalam hal, ukuran, bentuk, tekstur maupun jumlah. Sedangkan kata hayati itu sendiri berarti sesuatu yang hidup, jadi Keanekaragaman. Keanekaragaman hayati dapat dilihat dari tiga tingkat, yaitu keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem Keanekaragaman hayati berperan penting dalam menyediakan kebutuhan barang dan jasa, mengatur proses dan fungsi ekosistem sehingga kehidupan dapat terus berlangsung (Marhaento dan Faida 2015).

A. METODE

1. Lokasi dan Waktu

Kegiatan monitoring keanekaragaman hayati berlokasi di 2 kawasan konservasi PT Indonesia Power UJP PLTGU Cilegon yaitu di Ring 1 (area pembangkit), Ring 2 (area perkantoran) tepatnya di Jalan Raya Bojonegara, Desa Margasari, Kec, Margasari, Kec. Puloampel, Kabupaten Serang, Banten 42454. Titik lokasi koordinat lokasi penelitian ini adalah 05° 55’ 50” S dan 106 ° 06’ 15” E. Penelitian dilaksanakan pada Juli – Agustus 2023. Gambar 1 menampilkan peta lokasi penelitian di PLTGU Cilegon

Gambar 1. Peta Wilayah Kawasan PLTGU Cilegon

2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan penelitian dalam penelitian yaitu haga hypsometer, phiband, meteran roll 30 meter, kompas, patok kayu, tali tambang nilon panjang 20 x 20 m, alat tulis, kamera, GPS, tally sheet, timbangan, tali rafia, parang, kantong plastik, buku identifikasi tumbuhan untuk alat bantu pengenalan jenis pohon dan kamera digital untuk dokumentasi jenis pohon dan kegiatan pengamatan pohon. Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan monitoring adalah seluruh pohon beserta permudaannya yang berada di area PLTGU Cilegon dan peta kawasan PLTGU Cilegon

3. Pengumpulan Data

a. Analisa Vegetasi

Analisis vegetasi dilakukan dengan metode sensus, yaitu dengan cara melakukan inventarisasi seluruh jenis flora yang berada di lokasi pengamatan.

Jenis data yang dikumpulkan meliputi data pohon, tiang, dan pancang. Data semai dan tumbuhan bawah diambil jenisnya, data pancang diambil nama jenis, dan jumlah individu sedangkan tiang dan pohon diambil nama jenis, jumlah individu dan diukur diameter setinggi dada (Diameter Breast Height/DBH). Pohon adalah vegetasi berkayu diameter ≥ 20 cm, tiang adalah vegetasi berkayu diameter 10-20 cm, pancang adalah vegetasi berkayu diameter 5 cm sampai dengan < 10 cm, semai adalah vegetasi berkayu < 5 cm dengan tinggi ≤ 1,5 m, dan tumbuhan bawah adalah vegetasi yang tumbuh di lantai hutan, dapat berupa herba, semak atau liana.
Metode pengukuran diameter setinggi dada pada berbagai kondisi mengikuti SNI 7724:2011 tersaji pada Gambar 2

Gambar 2. Pengukuran Diameter Setinggi Dada Pada Berbagai Kondisi Pohon

b. Pengambilan Data Burung

Pengambilan data burung dilakukan dengan metode garis transek (line transect) dan metode titik hitung/point count dengan mencatat perjumpaan terhadap burung dalam rentang waktu tertentu (Van Helvoort 1981). Pada metode titik hitung, titik yang digunakan sebanyak 11 titik pengamatan, masing-masing 7 titik untuk area Ring 1; 2 titik untuk area Ring 2; dan 2 titik untuk area Ring 3. Pengamatan dilakukan pada pagi dan sore hari yaitu pukul 06.00 – 09.30 WIB dan 14.30 – 15.45 WIB. Parameter yang diukur adalah jenis dan jumlah individu

4. Analisa Data

Analisis data yang digunakan dalam kegiatan monitoring ini terdiri dari perhitungan Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), Indeks Kemerataan Jenis (E) dan estimasi cadangan biomassa. Adapun cara untuk mendapatkan nilai dari masing-masing parameter pengukuran adalah sebagai berikut.

a. Indeks Nilai Penting

Indeks Nilai Penting adalah parameter kuantitatif yang menunjukkan dominansi spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. Spesies yang dominan akan memiliki indeks nilai penting yang tinggi (Mueller-Dombois dan Ellenberg 1974). Perhitungan INP menurut Mueller-Dombois dan Ellenberg (1974) adalah sebagai berikut:

  • Kerapatan
Kerapatan adalah jumlah individu setiap spesies yang dijumpai dalam petak contoh.

Perbandingan kerapatan suatu jenis dengan kerapatan seluruh jenis yang dinyatakan dalam % disebut kerapatan relatif (KR). hasil dari perhitungan dapat memberikan gambaran jumlah individu dalam satuan luas tertentu. Kerapatan masing-masing spesies tumbuhan dihitung dengan menggunakan rumus:

  • Frekuensi
Frekuensi dalam suatu ekologi dipergunakan untuk menyatakan proporsi antara jumlah sampel yang berisi suatu spesies tertentu terhadap jumlah total sampel. Frekuensi merupakan besarnya intensitas ditemukannya suatu spesies organisme dalam pengamatan keberadaan organisme pada komunitas atau ekosistem (Indriyanto 2017) dapat dihitung dengan rumus:

  • Dominansi
Dominansi adalah luas bidang dasar pohon atau luas penutupan tajuk setiap spesies yang
dijumpai dalam plot (Hidayat 2017).. Luas penutupan (coverage) adalah proporsi antara luas tempat
yang ditutupi oleh spesies tumbuhan dengan luas total habitat (Indriyanto 2017).
  • Keanekaragaman Jenis (H’)
Indeks Keanekaragaman jenis (H’), menurut Magurran (2004) untuk mengetahui
keanekaragaman jenis tanaman pada setiap areal pengamatan dapat digunakan rumus
sebagai berikut:

Keterangan:
H’ : Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener
𝑝𝑖 : Ni/N; dimana:
𝑝𝑖 : Rasio jumlah spesies dengan jumlah total individu dari seluruh jenis
ni : Jumlah individu suatu jenis
N : Jumlah total individu

  • Indeks Kemerataan Jenis (E)
Indeks Kemerataan Jenis (E) menggunakan rumus Krebs (1989) sebagai berikut:

Keterangan:
E  : Indeks Kemerataan Jenis Evenness
H′ : Indeks Keanekaragaman jenis Shnannon-Wiener
S  : Jumlah jenis tanaman

b. Estimasi Cadangan Karbon

Karbon merupakan suatu unsur yang diserap dari atmosfer melalui fotosintesis dan
disimpan di dalam biomassa vegetasi. Tempat penyimpanan karbon dalam pohon terdapat
dalam biomassa batang, cabang, ranting, daun, bunga, buah, dan akar (Yuniawati dan
Suhartanan 2014). Perhitungan estimasi cadangan biomassa menggunakan persamaan
alometrik yang bersumber dari Katterings et al. (2001), sebagai berikut:

Keterangan:
B : Biomassa (Kg/pohon)
𝜌 : Berat jenis kayu (g/𝑐𝑚3)
D : Diameter Pohon (cm)

Biomassa yang diukur merupakan biomassa bagian atas (above ground biomass).
Pengukuran diamater dilakukan pada ketinggian 1,3 m di atas permukaan tanah atau disebut
diameter at breast height (DBH) menggunakan alat phiband. Adapun berat jenis pada beberapa tumbuhan yang ditemukan di lokasi PLTGU Cilegon disajikan pada tabel berikut:

Nilai dari biomassa lalu dikonversi ke nilai karbon. Jumlah karbon yang tersimpan pada
vegetasi dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut:

Keterangan:

C : Cadangan karbon
𝜌 : Biomassa

0,5 : Koefisien kadar karbon tumbuhan

B. Status Flora Tahun 2023

1. Daftar Nama Jenis, dan Jumlah Flora

Penentuan status Jenis flora di areal PLTGU Cilegon  berdasarkan status perlindungan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan Permen LHK P106/2018.

Berdasarkan status perlindungan IUCN ditemukan terdapat 1 jenis dengan status Critically endangered (CR) atau tergolong sangat terancam punah yaitu Vatica bantamensis. 3 jenis dengan status perlindungan Endangered (EN) yaitu Araucaria araucana, Pterocarpus indicus, dan Tectona grandis. Ketiga jenis tumbuhan tersebut berstatus konservasi untuk spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu dekat. Terdapat 2 jenis spesies yang berada status Vulnearable (VU) atau rentan yaitu Eucalyptus deglupta dan Tabebuia chrysantha. Selain itu, terdapat 1 jenis dengan status Near Threatened (NT) atau hampir terancam punah, yaitu Swietenia mahagoni. Edangkan jenis lainnya tergolong dalan status Least Concern (LC) atau resiko rendah dan Data Deficient (DD) atau data kurang. Sedangkan untuk status perlindungan menurut PermenLHK P106/2018 tidak ditemukan jenis tanaman yang dilindungi.

Tabel 3  Daftar nama jenis flora di Ring 1 dan Ring 2

2. Indeks Nilai Penting Tingkat Pancang

Indeks Nilai Penting (INP) merupakan salah suatu indeks yang dihitung berdasarkan jumlah yang didapatkan untuk menentukan tingkat dominasi jenis dalam suatu komunitas tumbuhan.

Untuk mengetahui indeks nilai penting pada suatu vegetasi diperlukan penjumlahan frekuensi relatif dan kerapatan relatif untuk tumbuhan bawah, semai, pancang, liana, tumbuhan merambat, epifit dan palem sedangkan nilai frekuensi relatif, kerapatan relatif dan dominansi relatif untuk menentukan nilai inp tiang dan pohon.

Jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat pancang di ring 1 adalah jenis Syzygium oleana dengan INP sebesar 29,84. Pada ring 2 jenis yang memiliki INP tertinggi adalah jenis Syzygium oleana sebesar 10,56. Rekapitulasi indeks nilai penting (INP) pada tingkat pancang untuk setiap lokasi disajikan pada Tabel 4

Tabel 4  Indeks Nilai Penting Tingkat Pancang

3. Indeks Nilai Penting Tingkat Tiang

Jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat pancang di ring 1 adalah jenis Mangifera indica dengan INP sebesar 67,39. Pada ring 2 jenis yang memiliki INP tertinggi adalah jenis Mangifera indica sebesar 75,13.

Rekapitulasi indeks nilai penting (INP) pada tingkat pancang untuk setiap lokasi disajikan pada Tabel 5

Tabel 5  Indeks Nilai Penting Tingkat Tiang

4. Indeks Nilai Penting Tingkat Pohon

Jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat pancang di ring 1 adalah jenis Eucalyptus deglupta dengan INP sebesar 47,74. Pada ring 2 jenis yang memiliki INP tertinggi adalah jenis Mangifera indica sebesar 70,15.

Rekapitulasi indeks nilai penting (INP) pada tingkat pancang untuk setiap lokasi disajikan pada Tabel 6

Tabel 6  Indeks Nilai Penting Tingkat Pohon

5. Indeks Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman Spesies dapat digunakan untuk mengukur stabilitas komunitas, yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponen-komponennya.

Menurut Magurran (1998), terdapat tiga kriteria dalam analisis indeks keanekaragaman jenis yaitu jika nilai H’ < 2, maka termasuk dalam kategori rendah, nilai 2 < H’ < 3, maka termasuk kedalam kategori sedang dan akan dimasukkan kedalam kategori tinggi bila H’ > 3. Indeks keanekaragaman pada Ring 1 tingkat pancang tergolong tinggi sedangkan tiang dan pohon tergolong sedang.  Pada ring 2 indeks keanekaragaman hayati pada vegetasi berkayu tingkat pancang, tiang, dan pohon mengalami tergolong sedang.

Tabel  7  Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) Total

6. Estimasi Cadangan Karbon

Jenis tumbuhan yang memiliki cadangan karbon terbesar di ring 1 adalah Albizia saman dengan jumlah 57,91 ton. Pada ring 2 Albizia saman  juga memiliki nilai cadangan karbon yang palin tinggi yaitu 42,04 ton. Hal ini terjadi karena Albizia saman memiliki kemampuan menyerap karbon yang baik yang ditandai dengan diameter batang lebih besar dibandingkan jenis pohon lain.

Diameter merupakan karakteristik tegakan yang mudah pengukurannya dan memiliki korelasi yang kuat dengan parameter penting yang lain, seperti luas bidang dasar dan volume batang, selain itu diameter juga merupakan fungsi dari umur, dan kerapatan tegakan.

Tabel 8  Jumlah Cadangan Karbon di Ring 1

Tabel 9  Jumlah Cadangan Karbon di Ring 2

7. Daftar Jenis Burung

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan ditemukan sebanyak 30 jenis burung dari 19 famili dengan jumlah individu total sebanyak 487 ekor di kawasan ring 1 dan ring 2 PT Indonesia Power PLTGU Cilegon OMU pada monitoring keanekaragaman hayati tahun 2022. Tidak terjadinya perubahan tutupan vegetasi yang signifikan menyebabkan kemungkinan pertambahan jumlah sepesies pada 2023 tidak terjadi.

Tabel 10 Daftar Jenis dan Status Burung

 

Kecenderungan Status Flora

Data Kecenderungan Indeks Keanekaragaman Hayati Jenis Flora Tahun 2022